7
April 2014
Sekali
lagi, hari ini dipenuhi dengan banyak tangisan. Hari ini, rasanya aku sangat
bebas dapat melihat Gusti. Tapi, di sisi lain, aku tidak tahu harus
mengungkapkan kebahagian ini pada siapa. Aku hanya bercerita soal hal semacam
ini pada Chikita. Hanya dia tempatku bisa tertawa bahagia mengingat Gusti. Aku
tidak bisa melakukan hal itu pada orang lain.
Dan,
ketika aku benar-benar ingin mengungkapkan kebahagianku, aku sadar kalau aku
sudah tidak memiliki Chikita lagi. Aku tidak punya teman yang akan selalu ada
di sampingku, mendengar hal-hal kecil tentang Gusti yang terlalu
kulebih-lebihkan. Tidak ada lagi orang seperti itu.
Walau
hanya melihat Gusti dari jauh ketika pulang sekolah atau mengikutinya dari
belakang ketika memasuki sekolah, aku tetap menceritakannya pada Chikita.
Bagaimana aku begitu senang dan bagaimana aku begitu menyukai Gusti. Tapi
sekarang, tidak ada lagi sahabat seperti itu. Aku tidak punya sahabat lagi.
Benar-benar tidak punya.
Chikita,
Ella, Asti, dan Tatiana semua menjauh dariku karena kesalahanku. Tindakanku lah
yang membuat jarak diantara kami semakin jauh.
Tatiana,
aku benar-benar minta maaf, sebelum-sebelum ini kau selalu peduli padaku walau
kau sudah jauh, tapi aku tidak pernah peduli dan hanya sibuk dengan urusanku di
sini. Sekarang aku sadar kalau aku benar-benar merindukanmu. Aku ingat saat
kepalaku sakit, kau menuliskan materi yang panjang itu dengan Cuma-Cuma padahal
kau juga harus menulis di buku mu sendiri. Aku benar-benar minta maaf, dan juga
merindukanmu.
Asti,
aku sadar kalau aku sangat egois, aku hanya melihat dari sisiku sendiri. Aku
menganggapmu berubah dan tidak peduli lagi padamu, tanpa mengintropeksi diri,
bahwa kau terlalu polos untuk mengerti keegoisanku. Dan sekarang, hubungan kita
semakin menjauh.
Ella,
kau adalah temanku dari SD dan sejak les kita jadi sangat sering bertemu.
Hampir semua hal tidak ada yang kita sembunyikan. Tapi karena keegoisanku, aku
melanggar janji yang telah kita buat. Aku benar-benar menyesal dan ingin
memutar waktu kembali. Tak seharusnya aku melanggar janji itu. Aku
menggampangkan semuanya, aku pikir dengan minta maaf satu atau dua kali, semua
akan kembali seperti semula. Tapi, kesalahan fatal itu tentu akan membekas di
hatimu. Aku sangat bodoh dan aku benar-benar menyesal.
Chikita,
ketika kita dekat aku merasa jauh. Dan itulah yang terjadi belakangan ini. Kita
bertemu setiap hari, tapi seakan kita terpisah oleh jarak yang begitu jauh,
kita bahkan sulit untuk saling menyapa. Dan saat kau berpikir aku dekat
dengannya itu menghancurkan hatiku, aku selalu berkata pada Elna bahwa aku
berharap Chikita dapat menghampiriku di mejaku, bukan aku yang selalu datang ke
tempatnya. Aku berharap kau menunjukkan bahwa kau dan dia berbeda, kau adalah
sahabatku sedang dia hanyalah temanku. Sama seperti aku menunjukkan pada Nydia
bahwa aku adalah sahabatmu, tempatmu berbagi segala masalah yang sulit kau
ungkapkan pada siapapun. Dan, apa aku harus merasa iri pada Nydia seperti kau
merasa iri pada dia? Hanya kau yang bisa menjawabnya.
Hal
yang membuatku benar-benar hancur saat melihat tatapan Ella dan Chikita
kepadaku seolah berkata ‘Siapa dia? Aku tidak mengenalnya?’ Kalian menatapku
seperti itu dan duniaku seolah jatuh. Jujur saja, hatiku benar-benar sakit.
Hari itu di hari senin saat akan diadakan bimbingan IPS. Kalian berjalan
bersama dan saat aku tiba-tiba muncul, Chikita hanya berkata “Aku pikir kau
akan mengikuti bimbingan IPS” dengan tatapan yang sangat menyakitkanku. Aku tak
mampu tersenyum setelah itu. Aku hanya bisa menangis dan benar-benar menangis
di kamarku.
Chikita,
hampir setiap mendengar suaramu, hatiku sakit. Antara kecewa dan juga rindu.
Ella,
setiap melihatmu aku seolah tak punya keberanian, dan hanya bisa bertanya ‘Apa
aku benar-benar sahabatmu?’
Aku
tidak bisa menceritakan ini pada siapapun. Aku tidak punya tempat lagi untuk
mengadu. Kalian, sahabatkulah yang bisa mendengar isi hatiku, tapi sekarang,
ini semua tentang kalian. Bahkan ibuku yang tahu semua hal yang terjadi pada
sahabatku, tidak kuberitahu. Ada tembok besar yang membuatku tidak dapat
mengatakannya. Sangat menderita dalam kesepian. Hanya air mata yang bisa
sedikit mencairkan kesepian itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar